Peserta KPN 2019 Asal Babel Punya Kisah, Begini Kisah Dinul Paling Berkesan

“Ada tiga fase umum kehidupan yang di lalui oleh tiap manusia. Lahir. Hidup. Mati”. Lahir menjadi peran yang mengawali segala cerita. Menjadi bait dimana segala kisah itu bermula. Dan “Hidup”-lah yang menjalani semua kisah-kisah itu. Kisah pilu.

Duka. Luka. Senang dan bahagia. Dan mati? “mati” menjadi peran bahwa segala kisah-kisah indah. Pilu. Luka dan duka itu, suka tidaknya semua itu pantas untuk dikenang. Sama halnya dengan sepotong kisah yang kan kuceritakan saat ini juga.
Samudera hindia bengkulu. Pukul 05.49 WIB.

Semburat kuning keemasan mulai menghiasi langit pagi. Pertanda bahwa Arunika siap merekahkan senyumnya dari kaki laut timur sana. Kapal KRI Tanjung Kambani 971 anggun membelah lautan. Dari info yang kuketahui. Perjalanan dari jakarta ke sibolga memakan waktu 3 malam empat hari. Semua peserta Pelantara membentuk barisan rapi di dek helly dengan dipisahkan serentangan kedua tangan, beberapa peserta maju kedepan untuk memimpin senam kedua kami pagi ini.

Salah satu yang amat ku kenal adalah nona Manda. Dialah wanita pertama yang ku sapa lewat Wa. Kami sempat berbincang hangat. Berbasa-basi. Membahas segala hal. Mulai dari hobby, keseharian. Apapun itu demi hubungan baik yang terjalin nantinya saat pelayaran kami dimulai. Dan itu terjadi beberapa minggu sebelum akhirnya kami bertegur-sapa untuk pertama kalinya di salah satu hotel elit di jakarta. Lucu sekali awal pertemuan itu, persis saat nona manda bersama kedua teman delegasinya memasuki ruangan registrasi, aku melambaikan tangan.
“Nona manda”. Seruku.

“Bujanggg”. Nona manda membalas seruku lantas menjabat tanganku hangat.
Hei, aku tidak keliru menyapa orang ternyata. Kau tahu? Seseorang pernah berkata, estimasi tidak selalu sejalan dengan realita. Begitupun saat pertama kali aku menjabat tangan nona manda. Dari yang ku ketahui lewat profil Wa, dia seorang yang berfostur tinggi, menenteng sebuah gitar listrik dengan gayanya seperti anak metal. Namun nyatanya yang berada di hadapanku sekarang lebih mirip anak seumuran SMA dengan mimik mukanya yang lucu.

Aku berbasa-basi hangat menanyakan kabar. Waktu tiba. Lantas mengarahkan mereka untuk menyegarakan administrasi. Ayolah, aku tidak sebodoh itu bergaya sok akrab lantas mengajak mereka berbincang-bincang tentang banyak hal setelah perjalanan jauh yang mereka tempuh dari nusa tenggara timur sana.

Waktu melesat bagai anak panah. Disinilah aku sekarang. Meningkahi setiap gerakan yang dilakukan oleh pemandu senam. Salah satunya nona manda. Inilah senam pertama yang memberiku kesan berbeda. Jika biasanya kita senam dengan diringi musik senam. Dikomando oleh hitungan pada tiap gerakan.

Berbeda halnya dengan senam pagi ini. Musik khas ketimuran mengalun indah di sela-sela hembusan angin samudera. Aku dengan patah-patah mengikuti gerakan nona manda. Langkah kiri. Langkah kanan. Maju dua langkah putar badan langkah lagi mundur lagi langkah lagi mundur lagi. Begitulah seterusnya hingga iringan musik berakhir.

Detik demi detik melangkahi menit hingga jam. Aktivitas di kapal berjalan seperti biasa. Mulai dari senam pagi. Apel pagi. Sarapan pagi. Pembekalan materi. Makan siang. Apel sore. Makan malam. Pagelaran pentas seni dari masing-masing provinsi. Apel malam dan tidur malam. Begitulah siklus kehidupan yang kami jalani di kapal. Aku mulai berkenalan dengan banyak orang. Asal mencomot topik. Sekali lagi, apapun itu demi relasi yang lebih baik kedepannya.

Dan mengenai nona manda. Tidak ada yang istimewa. Interaksi kami dilerai oleh kesibukan yang telah terjadwal di kapal. Selain itu, berada di kelompok berbeda menjadikan semuanya nampak menjadi lebih jelas. Kurangnya interaksi. Lagipula tidak hanya aku saja yang ingin di kenal oleh nona manda, begitupun sebaliknya. Akan tetapi ada beberapa waktu tertentu menjadi saat-saat kami berinteraksi.

Waktu sarapan dan apel misalnya. Itupun tidak lebih, hanya bertegur sapa. Saling menanyakan keadaan satu sama lain. Sisanya kami lebih fokus pada kesibukan masing-masing. Namun, entah apa pasalnya. Ada satu momen penting dimana semua keadaan itu berubah haluan hingga seratus delapan puluh derajat. Momen yang akan menjadi bagian paling penting dalam keseluruhan cerita ini.

Pukul 18.47, lintas laut sibolga.
Aroma khas goreng ikan menguar ke seluruh ruangan dapur kapal. Selalu menu yang sama, jika dirumah kalian bisa memilih lauk sesuka kalian. Namun hal tersebut tidak berlaku disini kawan.

Pagi Telur, siang ayam dan malam ikan. Itulah hidangan kami selama berada di kapal. Bahkan Ada beberapa peserta dengan sengaja menyingkat semua menu itu dengan sebutan TAI (Telur, Ayam, Ikan), menu paling istimewa nan mewah KRI Tanjung Kambani.

Ruangan dapur diwarnai suasana riuh para peserta diringi suara kelontang alat-alat masak. Dua bakul nasi seukuran pelukan orang dewasa masih belum cukup untuk mengatasi antrian panjang peserta. Aku berusaha menerobos pelan kerumunan antrian. Mencari piring. Menyapu pandangan keseluruh tempat cucian piring Namun yang ku cari nihil.

Aku menghela napas pelan. Persis saat ingin menyamankan badan dengan duduk di kursi, urung. Didepanku berdiri nona manda yang tampak seperti mencari sesuatu.

“nona manda, udah makan?”. Tanyaku.
Nona manda menoleh. “belumm bujangg”. Jawabnya seraya memonyongkan mulut.
“piringnya habis, piringku hilang”. Ucapku.
“aku punya piring bujang”.
“eh, terus kenapa nyari piring?”.
“males ngambil, hehehe”. Jawabnya manja.

“gini aja, biar aku antri, nona ambil dulu piringnya”.

“oke bujang, tunggu ya”. Jawabnya seraya melangkah pergi ke arah pintu keluar dan segera menghilang dari mulut pintu dapur.
Aku segera mengambil antrian yang masih panjang. Tidak lama berselang, nona kembali sambil membawa piring.
“ini bujang”. Ucapnya.

“oke nona, selagi aku antri, nona bisa kan nyariin tempat duduk untuk kita berdua”.
Nona manda mengangguk pelan lalu mengalihkan pandangan ke penjuru ruangan dapur kapal. Mencari kursi kosong.

Aku segera menyelesaikan antrian, mengeruk nasi yang ada dibakul, hawa panas mengepul dari dalam bakul. Membuat hangat mukaku sesaat.
“ko, porsi dua orang, kalo mau kasih lebih nggak masalah kok”. Aku tertawa. mencoba bergurau.

Eko adalah kenalanku dari POLIMARIN. Eko tersenyum lalu menumpahkan tiga potong ikan ukuran sedang ke piringku. Aku menyeringai. Mengucapkan terima kasih lalu segera menghampiri nona manda yang sedang duduk di salah satu bangku pojok dapur.

“nih”.ucapku sambil mengambil posisi duduk.

Kau tahu kawan, setiap manusia memiliki potongan indah dalam setiap kisah hidupnya. Kisah inilah yang nantinya akan terus melekat dalam diri setiap manusia hingga akhirnya nafas perlahan menghilang di tenggorokan. Jika ada banyak sekali potongan kisah indah yang ku dapat dari perjalanan ini. Maka inilah salah satunya kisah yang dengan bangga ku ceritakan kepada kalian.

Bismillah. Allahumma baarik lanaa fiyymaa razaqtanaa waqinaa ‘adzaabannaar. Aku melafadzkan do’a dalam hati seraya memulai suapan pertamaku. Degh, aku tersentak. Kaget karena aku merasakan suasana yang teramat ganjil dari sebelahku. Lihatlah, lihatlah nona manda, ia mengatupkan kedua tangannya takzim.

Menundukkan kepalanya hikmat. berdo’a menurut kepercayaannya. Betapa ia dengan khusyuk menunjukkan rasa syukurnya. Sungguh, aku menyesal dengan apa yang ku lakukan. Aku memang bukanlah seorang yang taat. Namun paling tidak aku juga harus menunjukkan rasa syukurku atas segala pemberian Tuhanku. Allah. Aku beristighfar dalam hati sejadi-jadinya.

Berusaha mengobati luka yang ku timbulkan. Lantas menengadahkan kedua tanganku. Menundukkan kepala lalu kembali mengulangi do’a yang sama. Aku melakukan ini semua bukanlah untuk ikut-ikutan. Apalagi bersikap sok.

Melainkan aku juga mempunyai hak untuk memberi gambaran bahwa aku juga mempunyai agama yang dianut. Selain itu, siapapun orangnya, apapun segala bentuk latar belakangnya, aku tidak peduli. Aku tidak akan pernah lupa kata-kata hebat itu.

“únzhur maa qoola walaa tanzhur man qoola. Lihatlah apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang mengatakan”.

Dan semua ini menjelaskan segalanya. Dan lihatlah kemari kawan, betapa harmonisnya semua ini. Saat itulah aku benar-benar merasakan bahwa perbedaan bukanlah suatu hal untuk dipermasalahkan.

Melainkan untuk menjadikan semuanya menjadi lebih satu dalam balutan perbedaan. Benarlah kata orang bijak itu, pelangi itu indah karena ia penuh dengan warna. dan nona manda-lah yang memberikan salah satu warna indah itu sendiri. Selesai. (*)

Penulis : Kisah/cerita ini disampaikan oleh Dinul Muammar Al Mahdi, Mahasiswa jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian Perikanan dan Biologi universitas Bangka Belitung.setelah mengikuti Kapal Pemuda Nusantara (KPN) 2019.

Sumber: 
Diskepora Babel
Penulis: 
*
Bidang Informasi: 
DISKEPORA